Guru kembali ke Khitthah!


 

Guru biasa hanya mendongeng,

Guru baik menjelaskan,

Guru ulung memperagakan,

Guru masyhur mengilhami!

(Kompas, 11-02-2004)

 

·                Pendahuluan

Dewasa ini praksis pembelajaran mengalami perubahan yang demikian pesat; dari yang semula yang konservatif, ditandai dengan peran dominan Guru (teacher-centered) kini bergeser pada dominannya peran aktif Siswa (student-centered). Relasi peran guru-murid dalam pembelajaran memang jauh berubah dari yang semula murid hanya diposisikan sebagai obyek kini tidak lagi demikian; siswa adalah subyek yang menentukan. Dari sisi substansi materi perubahan itu juga tampak dalam pemahaman terhadap makna materi ajar (subject matter). Di masa lalu materi ajar dipahami sebagai sesuatu yang sudah jadi, tuntas, sudah paripurna, dan oleh karenanya tugas pembelajaran di kelas adalah mentransfer ilmu pengetahuan tersebut kepada siswa. Pada masa kini materi ajar tidak lagi bisa dimaknai sebagai sesuatu yang sudah final, melainkan harus dipahami sebagai sesuatu yang masih harus dikembangkan dan disempurnakan.

Setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan percepatan perubahan praksis pembelajaran. Pertama, kemajuan di bidang riset tentang mekanisme kerja dan fungsi otak yang kemudian memberika sumbangan penting dalam perubahan praksis pembelajaran yang sesuai untuk meransang berfungsinya otak secara optimal. Kedua, riset di bidang intelegensi yang menyebutkan bahwa kontibusi IQ dalam menunjang keberhasilan seseorang hanya 20% saja, selebihnya ditentukan oleh factor lain (terutama oleh kecerdasan emosional). Ketiga, perubahan yang berlangsung dalam paradigma pendidikan yang semula didominasi oleh paradigma konservatif yang didukung oleh psikologi behavioristik, kini telah bergeser ke paradigma progresif-eksistensialesme yang ditopang oleh psikologi humanis-eksistensialisme sehingga sebatas tukang atau pawang melainkan sebagai fasilitator yang menjadi mitra belajar siswa. Dengan demikian, tanpa adanya kesanggupan dan kesiapan melakukan reposisi peran, eksistensi guru akan semakin tidak mampu menjawab tantangan tugas.

 

·                Reposisi Peran Guru Dalam Praksis Pembelajaran Modern

Ada suatu masa saat guru menjadi profesi yang terhormat, independen dan mendapatkan penghargaan finansial yang tinggi. Sesaat kemudian muncullah masa saat guru sangat dekat afiliasinya dengan kekuatan politik sehingga terjadilah pemihakan yang kemudian menjadikan guru sebagai alat perpanjangan tangan kekuasaan.sejalan kemudian, saat ini guru dihadapkan pada tantangan kehidupan yang sangat kapitalistik dan guru terpaksa mengesampingkan idealismenya dan kemudian "terpaksa" masuk dalam pusaran budaya pasar ini. Bahkan dari sisi murid juga demikian, guru dituntut untuk menyiapkan para siswanya untuk bisa memiliki kesiapan bertarung meraih sukses di dunia pasar kerja yang diestimasikan paling mampu memberikan kepuasan ditilik dari imbalan finansial yang tinggi. Guru dan proses pembelajaran di lembaga pendidikan hanyalah kepanjangan tangan dari HRD perusahaan besar yang memesan sejumlah tenaga siap kerja dengan spesifikasi keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan tersebut. Atas nama pasar, praksis pembelajaran saat itu juga dipaksa mengacu pada "doktrin" link and match dan kemudian hadir juga kurikulum berbasis kompetensi dengan jargon life skills. Bahkan saat ini juga masih berlangsung perkembangan kurikulum berbasis kompetensi yang dijadikan acuan dan pedoman dalam melaksanakan pembangunan pendidikan di berbagai bidang pendidikan, pengetahuan, keterampilan dan sikap di semua jenjang dan jalur pendidikan terutama di sekolah yang diberi label sebagai kurikulum 2013. Celakanya, guru bukanlah pihak yang menentukan perubahan, sebaliknya sebagai pihak yang dipaksa berubah.

Atas dasar kerangka pikir tersebut, sudah semestinya jika kemudian guru harus kembali menjadi pembela peradaban. Para guru harus sungguh-sungguh mampu berfungsi sebagai pihak yang mampu menyemaikan jiwa-jiwa merdeka para siswanya. Peran dan fungsi guru dalam proses pembelajaran modern saat ini, yang mengedepankan lebih dominan pada peran aktif siswa (student-centered) mencakup: Pemandu bakat dan potensi siswa, pengembang kurikulum, perancang desain pembelajaran, pengelola proses pembelajaran, peneliti dan penilai proses serta hasil belajar siswa. Selain itu, untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi tersebut dibutuhkan bekal pengetahuan dan keahlian yang ditopang sikap kerja yang penuh dedikasi terhadap profesi.

 

a.    Pemandu bakat siswa

Guru yang baik mampu mengenali secara dini potensi-potensi bakat yang dimiliki setiap siswanya. Sebagaimana telah dijelaskan di bagian awal bahwa orientasi didaktis-psikologis saat ini tidak lagi bersifat teacher-centered ataupun subject-matter-centered melainkan lebih kepada student-centered yang intinya adalah pada optimalisasi potensi. Dalam hal ini, setiap bakat dan potensi siswa dilayani, namun tidak secara eksklusif terpisah dari komunitasnya melainkan tetap dalam suasana klasikal.

Untuk dapat melakukan fungsi sebagai pemandu bakat, diperlukan tiga kemampuan awal. Pertama, guru perlu memiliki wawasan teoretik tentang konsep keterbakatan. Kedua, mengenali kebutuhan keterbakatan yang dimiliki oleh masing-masing siswa dalam tahap perkembangan. Ketiga, guru dituntut mampu melakukan pengamatan terstruktur terhadap setiap siswanya sehingga mengetahui kebiasaan-kebiasaan dan keunikan setiap siswanya.

 

b.    Pengembang kurikulum

Berdasarkan pemahaman yang akurat atas potensi, bakat dan kebutuhan siswa, guru mengembangkan kurikulum. Dalam hal ini diperlukan kepiawaian untuk mensinergikan antara tuntutan kurikulum nasional dengan tuntutan kebutuhan belajar siswa. Sebab tanpa kreatifitas yang berani dari guru sebagai pengembang kurikulum, kepentingan perkembangan perkembangan keterbakatan siswa jelas akan dikorbankan demi target kurikulum nasional. Sayangnya demikianlah yang selama ini masih saja terjadi. Dalam pengembangan kurikulum, guru disamping harus mengacu pada kebutuhan bakat dan minat siswa, hendaknya juga tepat dalam memposisikan lembaga pendidikan sebagai intitusi "produsen" ilmu pengetahuan dan juga sebagai "distributor" ilmu pengetahuan.

Selain itu, seorang guru idealnya terus menerus mengikuti perkembangan kebutuhan keterbakatan dari setiap siswa dari waktu ke waktu dan mengkomparasikan dengan perubahan sosial yang berkembang di masyarakat. Sinergi antara kebutuhan individual keterbakatan siswa dengan arah perubahan sosial masyarakat inilah yang semestinya dijadikan acuan dalam mengembangkan kurikulum di lembaga pendidikan. Tentu saja tetap mengakomdasi kebijakan nasional pendidikan yang ditetapkan oleh perundang-undangannya yang berlaku.

 

c.    Perancang desain pembelajran

Merancang desain pembelajaran juga merupakan tugas yang harus dapat dilakukan dengan baik oleh guru. Dalam merancang desain pembelajaran, guru hendaknya mengacu pada hasil-hasil penelitian mutakhir. Menurut riset-riset tentang mekanisme kerja otak dalam proses belajar dan berpikir disebutkan bahwa kehidupan emosional mendahului/mendasari proses kognisi. Dengan demikian pembelajaran seharusnya mampu menyulut berfungsinya amygdala sehingga dapat memicu optimalisasi fungsi otak emosional dan otak intelektual sehingga tercipta multiple chance of education karena tebukanya multiple channel dalam proses belajar.

Memperhatikan temuan penelitian di bidang otak di atas, desain pembelajaran yang relevan untuk tujuan tersebut adalah pembelajaran kontruktivisme. Pembelajaran kontruktivisme mengutamakan terbentuknya sikap dan persepsi positif terhadap belajar, perolehan dan pengintegrasian pengetahuan, perluasan dan penyempurnaan pengetahuan, seta pembiasaan mental berpikir produktif. Karenanya, sebaiknya seorang guru merancang desain pembelajaran yang cenderung mengacu kepada pembelajaran kontruktivisme tersebut.

 

d.   Pengelola proses pembelajaran

Kemampuan guru dalam merancang desain pembelajaran juga harus dilanjutkan sampai pada kemampuan mengelola hingga mengimplementasikan desain ke dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang telah didesain tersebut juga akan lebih efektif apabila didukung juga oleh siswa yang mampu secara kreatif merancang tujuan belajar dan memiliki perhatian kuat terhadap proses belajar. Agar memiliki makna, belajar juga harus terjadi dalam latar yang aktual dan diacukan ke arah pemecahan masalah yang aktual yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran juga harus "menghidupkan" topik yang mati sehingga tercipta pemahaman, penguasaan, dan rasa cinta pada materi yang diajarkan hingga kemudian tumbuh komitmen untuk mempelajarinya lebih dalam.

 

e.    Peneliti, penilai dan penulis

Profesi guru adalah profesi intelektual yang siklus alaminya mencakup membaca, mengajar, meneliti dan menulis secara terus-menerusmenjadi satu siklus yang tidak pernah berhenti. Membaca banyak hal di bidang ilmu yang menjadi tanggung jawabnya adalah sebuah kewajiban yang mutlak. Karena berdasarkan bahan bacaan yang telah dikuasai, seorang guru secara tidak langsung menguatkan muatan materi ajar dan kemudian menambah bobot kualitas pembelajaran yang diampu. Selanjutnya, proses belajar yang telah dilaksanakan juga dievaluasi secara terprogram dan temuan-temuannya ditulis menjadi catatan hasil penelitian, sebab guru yang berkualitas senantiasa memperbaiki performa dan kinerjanya dengan cara melakukan classroom action research yang hasilnya kemudian ditulis dalam naskah yang didiskusikan bersama oleh peer group mereka (semacam MGMP atau KKG). Hasil penelitian yang dilakukan sendiri juga dapat dimanfaatkan sebgai bahan untuk menulis buku bahan ajar dan sejenisnya. Tulisan-tulisan yang dibuat oleh guru tentunya juga memiliki bobot ilmiah karena berbasis dari data akurat yang sehari-hari mereka hadapi.

Melakukan penilaian juga merupakan tugas dan tanggung jawab guru. Terdapat sejumlah model penilaian yang tampaknya lebih sesuai digunakan untuk memenuhi tujua tersebut di atas. Sistem penilaian tersebut antara lain adalah evaluasi proyek, evaluasi performa dan evaluasi portofolio. Ketiga evaluasi ini dapat dijabarkan dengan singkat sebagai berikut;

-            Evaluasi proyek (project assessment)

Disebut sebagai evaluasi proyek karena setiap individu diberi kesempatan menentukan proyek yang akan dilakukan sebagai salah satu jawaban atas pembelajaran yang sudah ditempuh atau kinerja yang akan ditampilkan sebagai manifestasi bahwa sudah menguasai materi ajar secara paripurna dan mampu melakukan transformasi ilmu pengetahuan dari teori ke praktik nyata. Sistem penilaian ini memberi keleluasaan pada siswa untuk mengaktualisasikan potensi diri sesuai minat dan bakat yang mereka miliki. Mereka juga mampu mengkontruksikan ilmu pengetahuan dalam format baru menurut minat dan gaya masing-masing.

-            Evaluasi performa (performance assessment)

Dalam pengertian sederhana, evaluasi performa ini dapat dimaknai sebagai suatu sistem penilaian yang meminta subyek didik untuk menampilkan jawaban atau menampilkan karya yang mencerminkan bahwa dirinya telah menguasai pengetahuan tertentu dan dirasa mampu menggunakan serta menerapkan pengetahuan tersebut dalam suatu situasi dan kondisi tertentu.

-            Evaluasi portofolio

Evaluasi portofolio  merupakan koleksi sistematis dari siswa dan guru untuk menguji proses dan prestasi belajar. Portofolio bukan obyek, melainkan sebuah perantara penilaian oleh siswa dan guru yang menggambarkan aktivitas dan proses yang mendorong siswa untuk berdialog, merencanakan tujuan, bekerjasama, membandingkan, berbagi pengetahuan, berkontemplasi, membuat keputusan dan tidak hanya mempertanggung jawabkan apa yang telah dilakukan melainkan juga meneguhkan dengan argumentasi yang tepat.

 

·                Penutup

Usaha reposisi peran guru yang terkesan ideal, dalam realitasnya tidaklah mudah dilakukan. Beberapa kendala yang ada dan menuntut untuk segera diatasi dapat dipetakan sebagai berikut;

Pertama, sikap mental guru yang sudah terlanjur "dimanjakan" dengan model intruksi dari atasan sehingga melumpuhkan daya juang mereka untuk secara kritis sanggup memulai perubahan. Sudah lama para guru di-ninabobokkan dengan satuan pelajaran yang sudah jadi. Ada kecenderungan guru menikmati secara nyaman kondisi yang ada tanpa daya kritis untuk meretas perubahan atau prakarsa sendiri.

Kedua, iklim kerja di lingkungan guru yang sudah terpola statis, kurang dinamis dan kurang akomodatif terhadap potensi kreatif para guru. Para pimpinan lembaga pendidikan dan pengawas umumnya juga cenderung menyukai guru yang "patuh" ketimbang guru yang kritis dan kreatif.

Ketiga, bujukan para kapitalis pendidikan dalam bisnis perbukuan menjadikan potensi penulisan buku dikalahkan dengan tawaran bonus dan diskon dari penerbit atau percetakan.

Keempat, penghargaan masyarakat dan pemerintah terhadap kinerja guru relatif kurang bagus sehingga berakibat tidak terlalu banyak generasi muda cerdas yang tertarik menjadi guru. Meskipun sekarang sistem penanjakan jenjang karir dan penggajian relatif lebih baik namun hal ini juga masih sulit meningkatkan kinerja guru.

Namun apapun kendalanya, semua tergantung kepada guru sendiri untuk melihat realitas. Para guru dituntut sadar bahwa arus perubahan yang memaksa mereka kembali ke khitthah adalah kehendak sejarah yang tidak dapat ditolak.


Comments